“AIR SAUDARA KEMBAR MANUSIA”

  أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَGambar

“Apakah orang-orang kafir tidak melihat bahwasanya langit dan bumi dulu menjadi satu, kemudian kami pisahkan, dan kami jadikan karena air segalanya menjadi hidup, apakah mereka tidak percaya?” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 30)

Air adalah benda cair yang terdiri dari 2 unsur yaitu hydrogen dan oksigen. Setiap tetesnya air mengandung juataan molekul yang saling terakit satu sama lain. Keterkaitan  2 unsur tersebut  terjadi di dalam air dengan erat namun mudah dipisah-pisah, sehingga kita bisa dengan mudah menelan air. Tanpa kita sadari ternyata Allah menjadikan air sebagai bapak dari segala sesuatu yang hidup di dunia ini. Sebagaimana firman-Nya.“Dan telah kami jadikan dari air segala sesuatu itu menjadi hidup

Sebegitu menakjubkannya keadaan air, hingga Allah menjadikan segala sesuatu hidup  dengan bergantung kepadanya. Selain itu terdapat banyak sekali persamaan di antara manusia dan air. Sebagai contoh, para ahli mengatakan bahwa 1/3 bumi yang kita tinggali sekarang ini terdiri dari air, sedangkan sisanya teridiri dari hal lain-lain seperti, tanah, batu, besi dan lain sebagainya. Begitu pula dengan manusia, 1/3 dari tubuh manusia adalah air.

Secara pasti kita tidak mengetahui apa tujuan yang sebenarnya sehingga Allah menjadikan air sedemikian rupa dengan setiap persamaannya dengan manusia. Namun, hal tersebut sepertinya disengajakan demikian pengaturannya oleh Allah agar bisa diteladani oleh manusia.

Diantara keunikan air adalah, dua unsur yang membentuk air yaitu hydrogen dan oksigen adalah dua zat yang saling berlawanan dan bertolakan. Oleh karenanya banyak ahli yang berpendapat bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Namun, Allah dengan begitu mudahnya menjadikan 2 zat tersebut menjadi satu dalam bentuk yang kita sebut air. Selain itu, jika kita perhatikan air adalah zat yang berat/ masanya selalu stabil dan tidak berubah-ubah. Dalam keadaan apapun baik cair ataupun menjadi es berat air akan stabil. Oleh sebab itu biasanya kita lihat ada bongkahan-bongkahan es di atas laut di daerah kutub.

Begitu hebatnya air menjaga kesatuan dan keseimbangan beratnya, hal inilah yang kiranya juga patut diteladani oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan perbedaan pada setiap individunya. Ia memiliki iman yang kadang bertambah dan berkurang sebagai mana diterangkan oleh Rasulullah bahwa iman manusia adalah iman yang yazid wa yanqush. Jika saja setiap manusia bisa menjaga persatuan dan kesetabilan imannya, ya minimal tidak berkuranglah atau sama dengan kemarinnya maka kehidupan manusia di dunia ini akan stabil. Apalagi jika keimanan tersebut bisa ditambah maka sungguh subhanallâh sekali.

Lambang Keseimbangan

Jika air terdiri dari 2 unsur pokok yaitu oksigen dan hydrogen maka tak ubahnya dengan manusia. Manusia yang dalam bahasa biologinya disebut dengan makhluk hidup berbentuk fisik sebenarnya terdiri dari dua unsur juga, yaitu unsur rohani dan unsur jasmani. Kita tidak bisa menyebut sesuatu sebagai air jikalau zat tersebut hanya terdiri dari oksigen saja, atau hydrogen saja, karena air adalah satuan dari keduanya. Dengan demikian maka yang disebut air harus mengandung hydrogen dan oksigen.

Sama dengan air, makhluk yang disebut manusia juga terdiri dari dua unsur yaitu rohani dan jasmani. Dengan demikian maka tidak menjadi manusia jika hanya terdiri dari jasmani saja atau sebaliknya hanya rohani saja. Manuasia adalah perpaduan antara rohani dan jasmani yang keduanya memiliki kadar yang sama. Jangan sebut seseorang sebagai manusia jika dia hanya memerhatikan jasmaninya saja tanpa mau memerhatikan rohaninya. Begitu pula sebaliknya tidak sah hukumnya menyebut seseorang sebagai manusia jikalau ia hanya memerhatikan rohaninya saja. Setiap hari dia beribadah, bertafakkur, dan berdzikir, semenatara ia menelantarkan tubuhnya yang padahal juga memiliki hak yang sama dengan rohaninya untuk diperhatikan. Dengan demikian maka jasmani dan rohani pada hakikatnya adalah dua unsur yang menyatu. Keduanya harus mendapatkan perhatian yang sama dari pemiliknya untuk dapat berjalan seimbang sebagai mana mestinya.

Sosok yang Tawadlu’ dan Solutif

Itulah kiranya 2 dari banyak hal positif yang ingin Allah sampaikan kepada manusia melalui air. Jikalau kita perhatikan maka sesunggunya air selalu mencari tempat yang lebih rendah untuk disinggahi. Air tidak akan pernah membiarkan suatu ruang yang kosong tanpa ia mengisinya. Ia akan selalu mencari jalan keluar tanpa henti. Selain itu, air juga tidak mau dihentikan atau dibendung. Oleh karenanya jangan kita mencoba membendung air, karena jikalau dibendung maka air akan membludak. Contohnya banyak sekali tentunya. Pembuangan sampah secara sembarangan yang terkadang juga kita lakukan, telah banyak membuat air terbendung dan akhirnya menyebabkan banjir yang kita rasakan sendiri.

Manusia pun begitu, hendaklah ia selalu menempatkan diri ditempat kerendahan di hadapan Allah SWT. Menjadi makhluk yang mutawadli’ baik dihadapan Tuhan-nya maupun sesamanya. Hendaknya manusia tidak mau meninggikan dirinya sendiri di hadapan siapapun, karena pada hakikatnya ia adalah makhluk yang lemah. Sekali saja manusia merasa bahwa dirinya adalah lebih baik dari sesamanya maka tatkala itulah ia terbujuk oleh si perayu untuk menjadi orang yang sombong dan dimurkai Allah.

Hal tersebut dikarenakan kesombongan adalah baju kebesaran Allah. “الكبرياء لباسي” Oleh sebab itulah, hendaklah manusia tidak sombong. Dengan sombong sama saja manusia merebut dan menggunakan baju Tuhan. Hendaklah ia merendah, karena sifat rendah hati sangat terpuji dan dicintai Allah. Allah berjanji bahwa tidak ada yang merendah kecuali Allah akan meninggikannya.

Selain merendahkan diri manusia juga hendanyak menjadi makhluk yang solutif. Ia harus selalu mampu mencari jalan keluar untuk setiap masalah yang ia hadapi layaknya air. Ia mampu melihat sekecil apapun celah yang terdapat dalam setiap masalah sebagai solusinya dan tidak pernah menyianyiakan kesempatan yang melintas dihadapannya.

Hal  ini lah yang kiranya pernah dinasehatkan oleh Sayyid Ali r.a. “kesempatan ibarat awan yang melintas di atas kita” dalam kalimat tersebut, sayyid Ali menjelaskan kepada kita bahwa kesempatan adalah pemberian Allah kepada kita yang tidak akan terulang kembali. Ia ibarat awan yang lalu lalang di langit, sekali melintas maka awan tak akan kembali untuk kedua kalinya. Begitulah kesempatan yang hanya akan menghampiri suatu tempat sekali saja.

Oleh karena kesempatan hanya akan datang sekali saja, maka jangan pernah kita sia-siakan kesempatan tersebut, karena pada hakikatnya itu adalah karunia Allah kepada makahluknya. Ibarat air, tatkala menemukan celah sekecil apapun yang bisa ia isi maka tanpa menghiraukan apa pun air akan dengan cepat memenuhi celah tersebut.

Sosok yang Begitu Berharga

Air merupakan kebutuhan dari setiap makhluk untuk kelangsungan hidupnya. Namun, hal ini jarang difahami khususnya oleh manusia. Kebanyakan manusia tidak memedulikannya. Terkadang kita mengambil gelas yang besar untuk minum namun tidak kita habiskan. Kita terkadang membuka kran air namun kita buang begitu saja. Padahal, jika saja ia  menyadari betapa pentingnya air maka untuk segelas air pun kita akan rela mengeluarkan segala apa yang kita miliki.

Hal tersebut pernah dialami oleh Harus al-Rasyid. Suatu ketika, Harun al-Rosyid ditanya oleh seseorang, “jikalau engkau membutuhkan air untuk minum namun engkau tidak memilikinya, maka berapakah yang akan engkau bayarkan kepada orang yang menawarkan air kepadamu?” Ia menjawab “setengah dari apa yang aku miliki”. Lalu jikalau engkau hendak mengeluarkan air yang telah engkau minum namun dirimu tidak bisa sedangkan engkau hendak mengeluarkannya maka berapa yang akan kau bayar untuk pengeluarkannya?”  Katanya “setengah dari apa yang aku miliki”.

Sebegitu berharganya air, sehingga manusia rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi segelas air. Hal tersebutlah yang kiranya harus dicapai oleh manusia, ia mampu menjadi orang yang berharga dan berguna bagi lingkungannya. Sehingga, jikalau ia tidak ada maka akan banyak manusia lain yang mencarinya dan  merasa kehilangan atas kepergiannya. Bukan justru menjadi benalu bagi makhluk lain dalam kahidupan ini.

Penutup

Melihat sisi lain dari firman Allah “dan telah kami jadikan segalanya karena air menjadi hidup” penulis memandang bahwa yang dimaksud adalah bukan hanya hidup secara dzahir, namun juga hidup dalam arti kehidupan nilai-nilai luhur yang bisa diteladani langsung oleh manusia dari sifat-sifat yang dimiliki air. Manusai harus mampu menyeimbangakan rohani dan jasmaninya sebagai mana keseimbangan hydrogen dan oksigen air. Manusia harus selalu merendah dihadapan Tuhannya seperti air yang selalu mencari dataran yang lebih rendah dalam perputarannya, dan manusia harus mampu melihat setiap celah yang terdapat dalam setiap masalah sebagai solusinya.

Dengan meneladani keistimewaan air yang memang sengaja Allah jadikan sebagai tanda-tanda kekuasaannya, manusia akan mejadi makahluk yang berharga bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga berharga bagi setiap yang ada di sekelilingnya. Janganlah kita mau dibendung untuk sesuatu yang tak wajar membendung kita. jadilah seperti air yang liar namun benar, keunikan dibalik setiap geraknya menunjukkan kehadiran sang Ilahi yang selalu membimbingnya. Wallahu a’lam bi al-shawâb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s