ETIKA JAWA1

E. Tanda-Tanda Kebesaran Tuhan
Manusia itu merupakan suatu problem, suatu persoalan bagi dirinya sendiri, atau lebih tepat sebagai sebuah rahasia besar dan suci. Rahasia yang menakutkan, tatapi juga rahasia yang menarik, rahasia yang mengajak supaya menyelidikinya. Oleh sebab itu,sejak zaman dahulu manusia sudah menyelidiki dirinya sendiri (Driyarkara, 1978: 86).Perlu diakui bahwa manusia bukanlah problem yang akan habis dipecah-kan, melainkan sebuah misteri yang tidak mungkin di-sebutkan sifat dan cirinya secara tuntas. Oleh karena itu harus dipahami dan dihayati (Soeryanto Poespowardoyo dan K. Bertens ,1982: 1). Filsafat eksistensialisme meman-dang manusia sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk (Harun Hadi-wiyono, 1980: 149). Filsafat manusia adalah cabang dari filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia (Louis Leahy, 1992: 1).
Orang yang perjalanannya sampai pada tingkat hakekat maka ia arif, waspada dan mampu merangkum tanda-tanda kebesaran Allah, kemudian inti jiwa pribadinya tampak jelas (seperti orang berdiri di muka cermin) karena tanpa tabir penutup. Tabir-tabir yang semula menutupi tersingkap dan tampaklah apa-apa yang ada di balik tabir. Lalu dunia hakekat terasa mengeluarkan suara panggilan dari jauh (untuk menguji keteguhan hati), dan selanjutnya tampaklah peredaran zaman yang amat luas tanpa tepi. Menjalani sembah pada tingkat perjalanan yang situasinya rawan dan beraneka ragam seperti itu dapat disebut bertapa langsung di bawah ‘telapak kaki’ Allah Yang Maha Kuasa, yang menuntut tingkat kerohanian yang jauh lebih tinggi dari tingkat sembah sebelumnya. Penjelasan tersebut tampak pada bait berikut:
“Kang wus waspada ing patrap
mangayut ayat winasis
wasana wosing jiwangga
melok tanpa aling-aling
kang ngalingi kalingling
wenganing rasa tumlawung
keksi saliring jaman
angelangut tanpa tepi
yeku aran tapa tapaking Hyang Suksma.
(Serat Wedatama)
Dalam hubungan suami-istri diajarkan agar istri mampu menyaring tutur kata orang lain sehingga tidak mudah terpengaruh olehnya, wajib mengikuti kehendak dan mematuhi nasihat suami, sebaliknya suami wajib memberikan nafkah lahir maupun nafkah batin kepada istri. Keduanya, suami-istri hendaklah bersatu pendapat dalam segala hal yang baik, dan saling menghargai satu dengan yang lain. Dalam mengadakan hubungan bersebadan hendaklah diawakli dengan kesepakatan bersama, sama-sama suka berhasrat, sehingga diakhriri dengan kebahagiaan dan kepuasan bersama pula.
Dalam mengajarkan sikap bawahan terhadap atasan diharapkan hendaklah cekatan, cermat, trampil, rajin, tekun, sopan santun, teliti, patuh, jujur, tidak mendua hati, giat bekerja, tidak menolak jenis pekerjaan apa pun, mempunyai pertimbangan yang baik, tidak mengadalkan kekuatan dan kepandaian, berlapang dada jika mendapatkan marah, melakukan segala kehendak atasan, memperhatikan peraturan negara. Di samping itu bawahan ikut bertanggung jawab atas keselamatan atasannya, memperingatkan dan memberi nasihat jika atasan berbuat salah, bahkan juga rela berkorban jiwa demi atasannnya.
Di pihak lain, dalam mengajarkan sikap atasan terhadap bawahan diharapkan agar bertingkah laku rendah diri, sabar, tidak congkak, tidak tamak, tidak keras, dan tidak sewenang-wenang. Untuk mencapai hidup sejahtera, orang diharuskan mengingat enam hal:
(1) dugaan dalam pikiran yang tepat,
(2) penuh pertimbangan dalam bertutur kata,
(3) mengetahui hal-hal yang baik,
(4) mengetahui hal-hal yang buruk,
5) mendengarkan dengan perkiraan tajam,
(6) berbicara yang baik.
Di samping itu masih ada lagi yang harus diperhatikan, yaitu jika bersuka-suka jangan keterlaluan dan jangan menderita duka jangan berlebihan. Hendaklah orang tidak gemar makan, tidak gemar tidur, dan tidak gemar syahwat. Diajarkan pula hendaklah orang memahami nafsu lauwamah, amarah, sufiyah, dan mutmainah. Orang harus mensyukuri segala miliknya bagaimana pun wujudnya, jangan menginginkan segala yang baik atau enak tetapi bukan miliknya. Hendaklah orang senantiasa melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik akan mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman. Sebaliknya orang yang melakukan perbuatan jahat akan mendatangkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri.
Dalam kaitannya hidup dengan hukum-hukum agama diajarkan bahwa orang diberi kebebasan beragama, namun orang yang telah memilih salah satu agama harus konsekuen akan agamanya itu, harus memahami ajaran agamanya dengan baik, dan menuruti aturan-aturan maupun hukum-hukum agama yang ada di dalamnya. Bagi penganut agama Islam diwajibkan melakukan shalat sunat, shalat khajat, rajin mengaji Al qur’an, berpuasa dalam bulan Ramadhan, menjauhi segala hal yang haram dan makruh, mengurangi kesenangan duniawi, dan waspada pada waktu sakaratul maut. Sembah rasa menggunakan alat batin yang terdalam dan yang terhalus seperti tampak dalam ungkapan Wedatama ‘sinimpen telenging kalbu’ yang disebut di muka, adalah alat untuk melihat Tuhan setelah terlebih dahulu dibukakan Allah tabir yang menutupiNya. Dengan pusat kalbu yang terdalam, yang dalam keadaan jernih berkilauan, seorang salik mampu melihat Allah Yang Maha Ghaib, jauh tersembunyi
dalam pandangan mata biasa (Ardani, 1995).
Pada zaman dahulu filsafat adalah soal hidup atau mati Filsafat merupakan jiwa yang mencari keselamatan. Persoalan hidup, termasuk manusia, menjadi perenungan dan perbincangan sehari-hari, sehingga filsafat seperti yang dikatakan Tittus (1984: 11) juga berarti sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis. Pergeseran arti filsafat sekarang ini, menurut William Barret, karena spesialisasi yang semakin menyempit bahkan telah menjelma profesi sebagaimana dokter, pengacara dan guru. Pekerjaan (profesi) filsafat tidak selalu mempunyai arti sempit dan spesial seperti sekarang. Pada zaman Yunani, karena keadaannya adalah sebaliknya, yang ada bukan disi-plin teoritis yang dinamakan filsafat, tetapi suatu cara hidup yang kongkrit (concret way of life). Suatu pandangan yang total tentang manusia dalam alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang (William Barrett, 1962: 5).
Menurut Kattsoff (1987: 398-399), ada berbagai cara mengawali penyelidikan tentang manusia. Seseorang dapat mencantumkan bagaimana cara orang memakai istilah manusia atau seseorang dapat melihat contoh-contoh tentang manusia dan berusaha menentukan apakah yang mereka milik bersama. Selanjutnya bisa juga orang menggunakan istilah ma-nusia secara tepat ditinjau dari segi kata tata bahasa, namun tidak mengetahui apa makna yang dikandungnya. Artinya dia tidak dapat mendefinisikan istilah-istilah tersebut. Dari sini tidak perlu dibahas bagaimana istilah itu dipergunakan, melainkan di mana istilah itu dipakai untuk mengumpulkan makna yang sudah dianggap terdapat di dalam penggunaan istilah tersebut. Metode penyelidikan manusia ialah dengan jalan me-neliti apa yang telah dikerjakan oleh manusia dan apa yang telah mereka hasilkan. Kemudian berusaha mengumpulkan hakikat penghasil tersebut berdasarkan hasil yang telah di-perolehnya Dengan demikian sejarah, ilmu purbakala dan ilmu manusia banyak membangun untuk memahami manusia. Mendekati atau penyelidikan manusia dapat juga di-lakukan dengan bertolak dari pertanyaan siapakah manusia itu dan apakah manusia itu?
Pertanyaan pertama lebih men-dekati manusia dari pengalaman manusia itu sendiri. Tentang hal tersebut, Syekh Amongraga mengajarkan, “Jayengraga bertanya kepada Syekh Amongraga tentang kata-kata yang manis bunyinya, ialah apa yang disebut ilmu tanpa papan tanpa tulisan. Amongraga menjawab, bahwa hal itu sulit dijawab, karenanya diserahkan kepada Jayengwesti. Jayengwesti menyerahkan pertanyaan tersebut. Amongraga menjawab, bahwa ia belum pernah menemukan ujud suatu ilmu kosong. Utamanya suatu ilmu ialah, apabila tidak berbeda dengan tanggapan kalbu. Bagaikan seekor capung tanpa mata tampaknya. Seluruh kitab Quran diusahakan supaya lepas, sehingga tak mungkin hati akan kering karena keadaannya bagaikan lautan. Jayengwesti menyoal, ketika keadaan masih sunyi sepi karena belum ada bumi dan langit, di manakah gerangan kedudukan Allah, dan dimana pula kedudukannya ketika menciptakan jagad. Sesudah tersenyum Amongraga menjawab, bahwa ketika keadaan masih sunyi, yang ada hanya latakyun, artinya hanya kun yang ada. Kedudukannya disebut nukat wilayah gaib, tiga gaibul ghuyub, yakni gaib uluwiyah, budi atau akal kita berada pada Allah. Ada namun tidak tampak. Jayengwesti merasa gembira dan puas seraya mengatakan setengah bertanya, mengapa kakang berpura-pura bodoh. Padahal biasanya, mereka yang datang ke sini seorang pun tidak ada yang tahu. Demikian yang muda memuji. Itu masih jauh, demikian jawab Syekh Amongraga
Membicarakan dalil Quran, keluarnya kesempurnaan, puncak tertinggi suatu ilmu, hanya tafakur. Amongraga memaparkan dan menuturkan puncak ilmu. Keduanya lalu merangkul kaki seraya berucap lembut, “Wahai kakang saudaraku di dunia sampai di akhirat, telah memberi cahaya terang di hatiku, dan hanya tuanlah guruku, tempat berbakti. Semoga kelak berkenan berjodoh dengan Mbokayu.” Apabila pengertian makrifat menekankan “mengetahui Tuhan dari dekat sehingga dengan mata hati seorang sufi atau salik dapat melihatNya”, maka sembah rasa Mangku Negara IV agaknya dilaksanakan dengan jalan makrifat. Hal ini tercermin dalam berbagai ungkapan yang menunjukkan makrifat dimaksud, seperti melok tanpa aling-aling (kelihatan jelas tanpa tirai), pambukaning warana (tersingkapnya tabir), wus pada melok (sudah sama-sama melihat dengan jelas) yang akan disebut di belakang, dan lainlainnya (Ardani, 1995).
Dalam Suluk Sujinah ahli makrifat diterangkan sebagai berikut :
Lakune ahli makrifat, wuta tuli tan ngawruhi, tan ana ingkang kawruhan,sembah-sinembah pribadi, puji-pinuji sami, linglung tan kadulu, yeku ahli makrifat, tan anembah tan amuji, datan ana kang katon lan karasa
Wong makrifat puniki, datan sah alengur-lengur, karoban sih sanyata, kinarilan ing Hyang Widi, wus kapangguh amucung Suksma kawekas.
Terjemahan :
Laku ahli makrifat (adalah) buta, tuli, tiada melihat, tidak ada yang dilihat, saling menyembah sendiri, saling memuja. Leka karena tak ada yang terlihat. Itulah ahli makrifat, tak menyembah dan tak memuja, tak ada yang tampak dan terasa
Orang makrifat itu selalu termenung, dilimpahi sih sejati, diridloi Tuhan, telah ketemu luluh menyatu dengan Tuhan.
Jarumane ati kasampurnanipun, ingkang aran manah, aja pegat kudu eling, pan sakecap iku dadi edatira.
Dene laku satindak panrimanipun, tingal sakedhepan, tegese mring Islam yayi, kang anginum sacekukan iku iman.
Dene mangan sapulukan tegesipun, mung Allah kacipta, kalawan nyandhang sasuwir, pujinira kawayang sajroning driya.
Iya iku jatining urip riningsun, dipun ngrasa ing tyas, ya iku ingaran sumping, anetepi ing makrifat kang sanyata.
Datan ana ngamalira liyanipun, mung mosiking driya, dadya palyarak sayekti,
….
Terjemahan :
Kedalaman hati adalah kesempurnaan, yang disebut hati. Jangan putus-putusnya harus ingat, sebab (kata) seucapan menjadi datmu.
Adapun laku selangkah tawakallah. Mata sekejap, maknanya (tertuju ke) Islam, dinda. Minum seteguk, itu iman.
Adapun makan sesuap, artinya hanya Tuhanlah yang dipikirkan. Dan berpakaian selembar, pujinya terbayang dalam hati.
Itulah sejati hidup, dinda. Rasakanlah dalam hati, yaitu yang disebut sumping, mematuhi makrifat sejati.
Tak ada lain amalmu kecuali (mengikuti) gerak hati, itulah seyogianya laku bagi barang siapa yang ingin mencapai makrifat.
Orang yang telah mencapai makrifat berarti selagi masih hidup, kalbu dan rasanya telah luluh menyatu dengan Tuhan. Ia sudah tidak sedih atau menderita akibat pasang surutnya kehidupan. Jiwanya stabil. Tutur kata, tingkah laku menjadi saksikeagungan Tuhan. Apa pula yang menimpa dirinya disyukuri, Karena yakin bahwa Tuhan Mahaluhur, Mahakasih, Pemaaf, Bijak, dan Adil. Ia hanya mengikuti gerak hati, yakni mematuhi tuntunan Tuhan. Titik berat hidupnya, jiwanya bebas tidak terbelenggu oleh kemilaunya dunia yang fana ini. Ajaran kawula Gusti mengenai aspek lahiriah justru lebih banyak menyentuh masalah-masalah yang ber-hubungan dengan harmonitas sosial. Yang dimaksud dengan kawula Gusti pada aspek lahiriahnya ialah yang mengenai kenyataan dalam kehidupan sehari-hari perihal tatanan tinggi rendah, besar, kecil, masing-masing menurut wilayah sendiri. Di antara kesemuanya itu terpokok adalah mengenai rakyat dan pemimpin. Apabila masing-masing pihak menetapi kewajiban dan haknya, maka akan tercapailah kesejahteraan umum, berkat keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara lahir dan batin (badan dan jiwa), rakyat dan pemimpin, kawula dan Gusti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s