ETIKA JAWA

A. Filsafat Moral
Etika merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat. Dalam bidang kefilsafatan, etika juga disebut filsafat moral, yang membicarakan manusia dari sudut perbuatannya.Perbuatan atau tingkah laku manusia dalam hal ini adalah tindakan-tindakan yang didorong oleh akal budi yang menghasilkan perbuatan baik dan buruk. Kecenderungan orang dalam menilai perbuatan seseorang adalah penilaian terhadap tingkah laku yang dipengaruhi oleh kedudukan dan martabatnya. Semakin tinggi kedudukan serta martabatnya, maka semakin besarlah penilaian orang atas dirinya.Berdasarkan sumber teori nilai itu, maka terbentuklan berbagai aturan tentang bagaimana sebuah tingkah laku dinilai baik. Peraturan-peraturan itu sering disebut dengan norma. Nilai yang pada mulanya bersifat subyektif setelah menjadi milik sebuah komunitas kemudian dianggap menjadi bersifat subyektif. Berdasarkan cara pengkajiannya, etika dapat diklasifikasikan menjadi etika deskriptif dan etika normatif.
Etika deskriptif adalah etika yang menerangkan secara obyektif, apa adanya, tanpa dikurangi dan ditambahi serta tidak memberikan sesuatu interpretasi apapun. Sedangkan etika normatif adalah etika yang menjelaskan sebuah penilaian tentang mana yang baik dan mana yang buruk serta menunjukkan apa yang sebaiknya diperbuat oleh manusia.
Dalam etika Jawa terdapat aliran yang mengandung nilai eudaemonisme theologis. Eudaemonisme berasal dari bahasa Yunani eudaemoni, artinya kebahagiaan.
Eudaemonisme adalah teori dalam etika yang menyatakan bahwa suatu tujuan manusia adalah kesejahteraan pribadi atau kebahagiaan (Mudhofir, 1988: 26). Selanjutnya aliran theologi menyatakan bahwa suatu tindakan disebut bermoral jika tindakan itu sesuai dengan perintah Tuhan. Sedangkan tindakan buruk yaitu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuntutan moral yang baik dalam hal ini telah digariskan oleh agama dan tertulis dalam kitab suci dari masing-masing agama (Suseno, 1997: 83). Bagi orang Jawa pada umumnya memang ditekankan keselarasan antara makrokosmos (jagad gedhe) dan mikrokosmos (jagad cilik). Aliran eudaemonisme theologis ini terdapat dalam ungkapan Serat Wedhatama yaitu agama ageming aji, bahwa agama merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Moral atau kesusilaan adalah nilai yang sebenarnya bagi manusia. Dengan kata lain moral atau kesusilaan adalah kesempurnaan manusia sebagai manusia. Kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia (Drijarkara, 1978: 25). Pada umumnya manusia mempunyai pengetahuan adanya baik dan buruk. Pengakuan manusia mengenai baik dan buruk itu disebut kesadaran moral atau moralitas (Poedjawijatna, 1983: 130).
Kriteria perbuatan susila adalah kehendak yang baik, keputusan akal yang baik dan penyesuaian dengan hakikat manusia (Fudyartanta, 1974: 18). Poerwadarminta mengatakan bahwa moral mempunyai arti ajaran tentang baik buruk perbuatan, kelakuan, akhlak, dan kewajiban. Di samping itu, moral juga berarti kesusilaan yang terbentuk dari kata sila berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai arti berbagai ragam. Sedang menurut Sunoto bahwa moral, dari kata mores yang berarti adat istiadat, ialah sesuatu yang ada di luar diri manusia dan memberi pengaruh ke dalam. Pengertian moral di sini masih berkaitan dengan acat istiadat masyarakat tradisional.
Khusus dalam arti adat-istiadat atau kebiasaan, kata moral ini dalam bahasa Yunani disebut ethos, yang populer disebut dengan kata etika. Menurut Encyclopedia Britanica, yang disusun oleh William Benton, menyatakan bahwa:
Ethics from Greeks ethos character is the systematic study of the nature of value concept good and bad, ought, right, wrong, etc, and at general principle with justify us in applying them anything, also called moral philosophy from latin mores customs (William Benton, 1972: 752).
Pengertian etika yang diajukan William Benton ini merujuk pada semantic leksikal. Franz Magnis Suseno membedakan antara pengertian ajaran moral dengan etika. Ajaran moral adalah ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khotbah-khotbah, pathokan-pathokan, kumpulan peraturan dan ketetapan, entah lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumbernya bisa guru, orang tua, pemuka agama atau orang bijak seperti pujangga Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Darmaja, Empu Triguna, Empu Manoguna, Empu Prapanca, Empu Tantular, Yasadipura, Ranggawarsita, Paku Buwana IV, Sri Mangkunegara IV, Kyai Sindusastra, Kyai Kusumadilaga, Ki Padmasusastra, Ki Ageng Suryamentaram dan Ki Nartasabda.
Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandanganpandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Etika dan ajaran moral tidak setingkat. Yang mengatakan bagaimana seseorang harus hidup adalah ajaran moral, bukan etika. Etika mau mengerti mengapa seseorang harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana seseorang dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Magnis Suseno, 1997 :14). Tanggung jawab moral sangat penting dalam kehidupan kolektif.
Etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi di lain pihak etika juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan diperlukan oleh agama. Untuk mengimbangi perkembangan ilmu dan teknologi pun, peranan agama dan etika menjadi lebih penting (Jacob, 1988: 30). Manusia dibentuk oleh kesusilaan, yang berarti bahwa manusia hidup dalam norma-norma yang membatasi tingkah lakunya, yang menunjukkan bagaimana seharusnya bertingkah lakuk dalam masyarakat. Apabila seseorang telah memenuhi syarat-syarat kesusilaan, maka ia dapat dikatakan baik dipandang dari segi kesusilaan (Endang Daruni, 1997: 10-11). Manusia Indonesia dikatakan bermoral apabila ia tidak hanya mementingkan kebutuhan jasmani saja, melainkan juga yang rohani, bersama-sama dalam keseimbangan, antara kebutuhan individu dan masyarakat, antara kedudukannya sebagai makhluk yang mandiri dan sebagai makhluk Tuhan (Notonagoro, 1974: 90-91). Konsep Notonagoro ini disebut juga dengan istilah loroloroning atunggal, atau monodualisme.
B. Ajaran Moral
Ajaran moral adalah ajaran yang berhubungan dengan perbuatan atau tingkah laku yang pada hakikatnya merupakan cermin akhlak atau budi pekerti. Secara keseluruhan, ajaran moral merupakan kaidah dan pengertian yang menentukan terhadap hal-hal yang dinilai baik atau buruk. Ajaran moral menerangkan apa yang seharusnya dan semestinya dilakukan manusia terhadap orang lain. Dalam khazanah sastra Jawa terdapat berbagai macam karya sastra yang mengandung penjelasan mengenai konsep-konsep kebaikan. Pada kenyataannya karya sastra Jawa cukup banyak jumlahnya dan beraneka ragam isinya. Beberapa pengkajian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ajaran moral yang cukup tinggi di dalamnya. Ajaran itu mampu menjadi pedoman dan pegangan bagi masyarakat pada masanya. Bahkan untuk saat ini ajaran yang dikandung dalam sastra Jawa itu tetap relevan.
Bangsa Indonesia mempunyai kekayaan yang berupa karya sastra tertulis dalam berbagai bahasa dan aksara daerah. Studi mengenai karya sastra daerah memiliki peran yang amat berarti guna pertumbuhan ilmu pengetahuan humaniora dan sekaligus mengembangkan kebudayaan nasional. Dengan meneliti berbagai sastra daerah itu akan terungkap unsur-unsur budaya lokal. Budaya-budaya lokal tersebut pada akhirnya akan memperkokoh budaya nasional dan menguatkan jati diri kita sebagai sebuah bangsa.
Masyarakat Jawa menyebut ajaran moral dengan istilah pepali, unggah-ungguh, suba sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang wuruk, pranatan, pituduh, pitutur, wejangan, wulangan, wursita, wewarah, wedharan, duga prayoga, wewaler, dan pitungkas. Orang Jawa akan berhasil hidupnya dalam bermasyarakat kalau dapat empan papan, kalau dapat menempatkan diri dalam hal unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa, dan jugar genturing tapa. RMP Sosro Kartono, kakak kandung RA Kartini merumuskan ajaran moralnya dengan ungkapan anteng meneng sugeng jeneng.
Pesan-pesan moral dalam masyarakat Jawa disampaikan lewat media seni, dongeng, tembang, pitutur, piweling para orang tua secara turun-temurun. Hal ini bisa dilacak dengan banyaknya sastra piwulang. Ungkapan tradisional seperti sing becik ketitik sing ala ketara, titenana wong cidra mangsa langgenga dan sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Kebanyakan agama yang universal juga mengajarkan sikap hormat terhadap kehidupan manusia. Dlam Islam dianjurkan praktek agama dengan rahmatan lil alamin. Sedangkan dalam budaya Jawa dikenal memayu hayuning bawana, yang berarti ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian dan keadilan abadi.
Dimensi sosial nilai-nilai etis memberikan suatu kadar objektif yang jarang terdapat dalam bidang kreativitas yang pada dasarnya bersifat pribadi. Objektivitas ini merupakan suatu prasyarat bagi universalitas nilai-nilai etis (Shah, 1986: 99). Tujuan pembahasan etika dapat dilukiskan sebagai upaya mencari norma-norma yang seharusnya mengatur hubungan antar pribadi. Keamanan sosial dan kebebasan berpikir merupakan prasyarat dasar bagi perkembangan individu. Penyelidikan etika akan mencurahkan perhatiannya kepada upaya menemukan kualitas-kualitas kemanusiaan dan bentuk-bentuk kelembagaan sosial yang dapat memberikan dorongan yang optimal kepada realisasi kondisi itu (Shah, 1986: 100). Sinuwun Paku Buwana IV, raja Surakarta Hadiningrat, menerangkan arti penting moral dalam Serat Wulang Reh.
Mijil
Dedalane guna lawan sekti,
kudu andhap asor wani ngalah luhur wekasane,
tumungkula yen dipun dukani,
bapang den simpangi,
ana catur mungkur.
Terjemahan
Menuju kepandaian dan kesaktian,
harus mau rendah hati,
berani mengalah luhur akhirnya,
merunduklah bila kena marah,
penghalang dihindari,
sumber bencana ditinggalkan.
Makna moral yang dikandung dalam tembang mijil di atas yaitu anjuran kepada manusia, agar dirinya bersedia bertindak rendah hati kepada sesama hidup, hormat kepada yang lebih tua, mengasihi kepada yang lebih muda. Apabila terjadi perselisihan, disarankan supaya mau mengalah. Kata-kata kasar dihindari dan mau mencegah kelakuan yang merugikan. Demikian itu cara orang untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan (Soetrisno, 2004 : 17). Tembang mijil tersebut menekankan perlunya mengendalikan emosi.
Arti penting moral juga terpatri dalam epitaph makam Imannuel Kant: Cellum stellatum supra me, lex morralis intra me, yang berarti begitu cemerlang bintangbintang di angkasa raya, demikian pula moral susila di dada manusia (Damardjati Supadjar, 1993: 117). Bidang falsafah pewayangan tampaknya penggambaran sifat-sifat berbudi luhur atau perilaku yang bermoral terdapat pada para tokoh wayang yang diteladankan. Kawruh sangkan paraning dumadi, satataning panembah, kawruh jumbuhing kawula gusti, ngelmu kasampurnan, ngelmu kasunyatan dan sebagainya sering ditampakkan pada setiap pagelaran wayang atau cerita-cerita dalam kesusasteraan Jawa (Haryanto, 1992: 157). Dalam pagelaran wayang banyak dijumpai ajaran-ajaran tentang keutamaan prajurit sejati.
Kemudian konsep moral yang terkandung dalam etika militer Jawa akan dicoba diungkapkan secara filosofis dalam pembahasan ini. Mutiara-mutiara etis filosofis dalam sistem militer Jawa di antaranya tentang moralitas berguru, mawas diri, pembentukan pribadi yang bertaqwa, usaha menjadi manusia paripurna, renungan mengenai hakikat hidup, konsep bebrayan, sambang, sambung, srawung, tulungtinulung.
Hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam budaya Jawa diungkapkan dengan istilah saiyeg saeka kapti, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Seorang prajurit sejati diharapkan mempunyai kedisiplinan, kejujuran, ketrampilan, keberanian, keperwiraan, kesahajaan dan ketangguhan.
Sejak akhir abad ke-19 telah banyak orang memperhatikan berbagai aspek kehidupan orang Jawa, namun dengan pesatnya laju pembangunan di segala bidang, dan dengan timbul serta berkembangnya industri dan teknologi modern yang melanda kehidupan masyarakat di segala penjuru wilayah nusantara ini, dirasa perlu adanya pengamatan apakah gaya dan pola kehidupan masyarakat Jawa dewasa ini masih tetap lestari, ataukah sudah mengalami perubahan. Suatu hal yang menarik, ialah akhir-akhir ini kebudayaan Jawa dalam pelbagai aspeknya ternyata semakin memikat untuk diteliti dan dikaji, baik bagi para pengamat dan peneliti asing, maupun bagi budayawan dan cendekiawan bangsa kita sendiri. Pembahasan topik Etika Jawa ini bertujuan melacak akar-akar nilai budaya yang sudah kurang dikenal, namun dirasakan umum masih mempunyai pengaruh di kalangan luas ataupun di kalangan elite politik tertentu.
Pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa dan negara kita Indonesia ini, yang hakikatnya ialah merupakan proses pembaharuan di segala bidang, cepat atau lambat akan menimbulkan pergeseran nilai. Sehububungan dengan hal ini, maka niscayalah banyak nilai lama warisan nenek moyang menjadi terlupakan, sementara nilai-nilai yang baru belum mantap dan masih dicari-cari. Akibat yang tidak diharapkan dapat terjadi, ialah timbulnya ketegangan maupun pertentangan sosial.
C. Moralitas Kosmologis Simbolik
Etika Jawa bersifat kosmologis dan simbolis. Problema etika kefilsafatan mula-mula bersifat Kosmologis. Ketertiban mikro dijabarkan dari ketertiban makrokosmologis yang berlaku secara konform, kita masih ingat ucapan kuno dari Herakleitos:
This world order, which is the same for all, more of the gods or men has made; it was ever, is now and shall be; an ever living Fire, kindling in measures and being extinguished in measures.
Penampilan Socrates dengan seruannya; Gnothi Seauton, merupakan pembalikan orientasi dari kosmologi makro ke kosmologi mikro. Masalahnya yang timbul ialah apabila orang mengukur kesemestaannya dari pangkal tolak individual, sedangkan anjuran: pengawikan pribadi tersebut tidak kunjung ditaati; kalau demikian maka orang tidak akan mencapai taraf mulat-sarira; bahkan juga tidak berhasil: tepa-sarira; mereka yang demikian ini selamanya hanya: nandhing-sarira.
Menghadapi kenyataan demikian Etika Dahulu mengajarkan agar kita menyerukan: Jagad Dewa Bathara, ora jagad pramudita. Konsepsi raja yang agungbinathara, semula dimaksudkan sebagai personifikasi ketertiban makro tadi; yaitu yang menjadi inti kosmologi: ning-rat. Seruan Socrates agar kita: mengenal diri sendiri tadi, merupakan awal dari kategori imperatif, yang kelak dirumuskan oleh Imanuel Kant.
Aristoteles (Plato)-lah yang mulai mengajarkan ethika-humanis, dengan 4 tabiat salehnya, yaitu wisdom, courage, simplicity dan justice. Nilai-nilai demikian juga tidak asing buat kita; kita memiliki orang-orang arif bijaksana (Damardjati Supadjar, 1993) Kearifan Ronggowarsito diakui oleh C.F. Winter, yang sekaligus menyelamatkannya dari jebakan orang Belanda yang menulis kamus Jawa-Belanda yang pertama tersebut.
Kita memiliki pahlawan-pahlawan yang gagah berani. Pemerintah belum menghapus seruan dan anjuran pola hidup sederhana, sementara itu “kedatangan” Ratuadil masih merupakan teka-teki misterius ahli-ahli Filsafat-Sosial. Tidak dapat diragukan bahwa, “Wiku-Sapta-Ngerthi Tunggal” itu menunjuk kepada proklamasi 17-8-45, sedemikian rupa sehingga berkat atas kemerdekaan itu bukan hanya basa-basi religius, melainkan suatu ordo-essendi, namun bahwa momentum Proklamasi itu juga sekaligus suatu Magna Instanratio. Menurut “Filsafat” Jawa, maka ketertiban itu seharunya ternyata atau seharusnya dimulai pada lapisan “atas”. Ajaran etis: Mangkunegaran/Paku Buanan, sesungguhnya tertuju kepada lapisan atas (…”wedhakna dhadha mandhuwur…”). Mengapa demikian? Sebab rakyat kebanyakan itu: dhomos;
pathet-nya: 6 (nem).
Masalahnya menjadi komplek oleh: momentum kemerdekaan, dan yang dengan demikian Tradisi dipermasalahkan dengan Modernisasi. Bahwa Jepang berhasil mengkonvergensikan yang tradisional dengan yang modem merupakan studi kasus yang menarik. Hal berikutnya yang diisyaratkan oleh “filsafat” Jawa ialah sifat komunal-nya, kegotong-royongannya. Etika Jawa bertumpu pada ajaran: ngesthi pribadi yang tidak individual alam arti tidak egois. Merasa yang berlebih-lebihan secara individual, masih tetap menjadi bulat-mulut rakyat kebanyakan, bahkan walau dalam alam kemerdekaan sekalipun (Damardjati Supadjar, 1993). Sebenarnya tidak mudah untuk menarik garis batas yang jelas antara etika Jawa masa kini. Walaupun demikian perbedaan itu justru dibuat dengan sengaja, agar telaah masalah-masalah etis yang kontemporer dapat di mengerti.
Semuanya itu merupakan tantangan masa kini. Keluarga,.yang semula merupakan satuan alami dan sekaligus satuan kerja, dengan otoritas, ketaatan yang sewajarnya, mulai digoyahkan oleh dampak-negatif kehidupan modern. Sebagaimana kita ketahui Koentjarningrat dengan tegas menilai bahwa modernisasi itu tidak luput dari hal-hal negatif. Sebaliknva banyak soal-soal tradisional yang harus dikoreksi, apabila kita memang benar-benar mau hidup secara modern.
Orientasi kosmologis Jawa, yaitu mengenai tata-hubungan kita dengan alam semesta, oleh Koentjaraningrat dinilai ideal. Demikian pula sikap komunal kita, dengan modifikasi seperlunya, masih positif dalam kehidupan modern. Sebaliknya mentalitas Jawa mengenai makna kerja, masih harus dikoreksi; juga tentang waktu. Kemerdekaan sebagai suatu konsep majemuk, yaitu kesempatan yang menjadi jembatan meninggalkan hal-hal negatif, sekaligus untuk aktualisasi positif potensi-potensi subyektif, menuntut pula keseimbangan antara otonomi dan heterononi, keseimbangan antara hak dan kewajiban. Kemerdekaan membuka kesempatan untuk memilih diantara berbagai alternatif. Kebebasan memilih alternatif, pemaparan argumentasi yang mengalasi pilihan serta kesediaan untuk konsekuen dengan akibat pilihan, adalah dasar-dasar elementer suatu momentum ethis. Etika pada masa kini. adalah Etika pada masa Alih Generasi. Ungkapan nenek-moyang: Wong Jawa kari separo, mempunyai konotasi ganda: kuantitatif dan kualitatif. Pemimpin menekankan. aspek kuantitatif, justru karena program transmigrasi secara besar-besaran. Secara kualitatif, kemungkinan terjadi melalui konvergensi nilai-nilai tradisional dan modern, lokal dan nasional atau bahkan nasional dan internasional. Pada. masa demikian itu, ungkapan lama, “Kebo nyusu gudel”, mengisyaratkan akan super-aktif dan super-latifnya generasi muda sebagai generasi penerus.
Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan sosial yang timbul sebagai dampak modernisasi dan pembangunan sosial di Indonesia, terasalah kebutuhan melacak akar pelbagai unsur kebudayaan seperti etika, etiket dan pandangan hidup, ketiganya faktor-faktor substansial yang menentukan pola kelakuan, adat-istiadat, kehidupan moral dan dengan demikian mengkerangkai kehidupan kultural masyarakat (Sartono, 1985 : 2). Dalam menghadapi perubahan sosial masyarakat Indonesia pada umumnya, di Jakarta khususnya, mengalami krisis sosial, antara lain kehilangan atau paling sedikit ketidakpastian tentang identitasnya, kegoncangan nilai-nilai lama (tradisional), keretakan dan keutuhan pola hidupnya, daya tarik kuat unsur ataupun nilai baru yang datang dari luar, kesemuanya itu membawa rasa kebingungan dan ketidakpastian.
Pada satu pihak dirasakan bahwa banyak nilai-nilai lama tidak sesuai lagi dengan situasi baru dan pada pihak lain nilai-nilai baru belum mantap untuk dapat dipakai sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan itu proses penyesuaian menuntut suatu seleksi, suatu proses yang mempunyai implikasi sangat kompleks. Dalam proses itu pelbagai kekuatan mempunyai peranannya, antara lain kekuatan ekonomis, sosial, politik, relegius dan lain sebagainya. Tambahan pula pelbagai unsur sosial dengan pelbagai kepentingan, orientasi, ideologinya turut menentukan alternatif-alternatif yang tersedia. Sudah barang tentu pluralisme, ideology nasional dan politik pembangunan sangat menentukan ekonomi politik pembuatan seleksi itu. Di samping itu masyarakat menunjukkan pula gairahnya menangani permasalahan tersebut, lebih-lebih yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan praktis sehari-hari. Perubahan sosial telah berjalan cukup lama, ialah seratus tahun lebih, akan tetapi sejajar dengan jenjang modernisasi dalam alam kemerdekaan kita mengalami peningkatan luar biasa, sehingga lebih dari masa-masa sebelumnya sangat terasa kegoncangannya, maka terasa sekali urgensi proses penyesuaiannya.
Sejajar dengan proses peningkatan jenjang perubahan itu muncul kebutuhan mendesak melacak hakekat warisan kultural kita dengan harapan mudah-mudahan diketemukan kembali di antara khazanah kultural itu nilai-nilai yang dapat memperluas kerangka pemikiran kita tidak hanya dalam melakukan seleksi tersebut di atas, tetapi juga membantu dalam pembentukan kebudayaan nasional umumnya dan kepribadian bangsa khususnya.
D. Wulang Wuruk Jawa
Wulang wuruk Jawa atau pelajaran etika berhubungan dengan garis longitudinal umur seseorang, yang dijalani setingkat-demi setingkat. Tata Krama dimulai sejak kita kecil, sedini mungkin. Di dalam keluargalah kita diajar, dibiasakan bagaimana beretiket:
halus tutur bahasanya, luhur budi-pekertinya, sikap yang sopan-santun mengenal jenjang-jenjang bahasa. Dikenallah: bahasa ngoko (andap antya basa/basa antya) bahasa krama (andap madya inggil) (Damardjati Supadjar, 1993). Kesadaran atau kedewasaan etiss berhubungan dengan kedewasaan cipta-rasa dan karsa (logical reasoning-emotional maturity-moral stability).
Dalam hal demikian pengembangan bahasa Jawa nampaknya akan membantu pelajaran Tata-Krama Jawa. Kita semua tahu bahwa tidak mungkin kita bertengkar memakai bahasa krama; apabila kita bertengkar pastilah kita lalu memakai bahasa ngoko, lebih-lebih apabila sudah emosional. Kesemuanya itu sesungguhnya berlandaskan kepada pandangan hidup Jawa. Bukan pada tempatnya untuk menguraikan hal itu, lebih-lebih di hadapan para ahli Javanologi. Kata-kata kunci: sangkan paraning dumadi, pangastuti, mawas diri.
Ajaran Etika Jawa sebagaimana yang nampak pada Etiketnya, meliputi banyak segi: ungguh-ungguh, suba-sita, boja-krama, kesemuanya mencakup hubungan selengkapnya. Antara manusia dengan Tuhan: manusia dengan sesamanya. Manusia dengan alam sekitarnya. Antara manusia dengan sesamanya dibedakanlah: antara yang muda dengan yang lebih tua (anak-bapak); adik-kakak; siswa-guru). Bawahan-atasan (anak buah-pemimpin), suami-isteri, teman akrab atau baru, dan lain sebagainya. Juga dikenal ajaran yang lebih luas, mengenai kota dan desa; ungkapan: Desa mawa cara, negara mawa tata, pada masa sekarang mampu memberi petunjuk bagi kearifan pola hubungan Jawa-luar Jawa atau Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Di sinilah letak pentingnya pertanyaan: apakah etis apabila pembangunan (sebagai cara untuk mencapai tujuan) bertumpuk di Jawa? Sudah dikemukakan di atas, bahwa yang dimaksud dengan etika dan tata krama Jawa dahulu, adalah etika dan tata karma sebelum proklamasi kemerdekaan, yang pada umumnya telah melembaga secara tradisional. Dengan demikian maka hal itu amat erat hubungannya dengan berbagai macam upacara tradisional, sebab maksud upacara tradisional seperti itu juga tidak terlepas dari kandungan moral.
Kitab-kitab Jawa penuh dengan ajaran moral misalnya: Centhini, Wulangreh, Weddhatama, Wetaradya. Bahkan kritik pujangga Yasadipura, yakni Wicara-Keras, juga disampaikan secara etis. Centhini misalnya menggariskan kewajiban atau syarat etis seerang calon sarjana-sarjana, yaitu: nastiti, nestapa, kulina, diwasa, santosa, engetan, santika, lana. Adapun sarjana dan sujana yang baik, haruslah memenuhi kualifikasi: paramasastra, paramakawi, mardibasa, mardawalagu, hawicarita, mandraguna, nawengkridha, sambegana. Alangkah asingnya kualifikasi demikian itu untuk kita pada masa sekarang. Berbagai upacara tradisional sebagai wadah atau pendukung Etika Jawa dahulu, dapat kita lihat kembali pada inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah.
BAB II
ETIKA KETUHANAN UNTUK
MEMPEROLEH KESEMPURNAAN
A. Ber Budi Bawa Leksana
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangku Negara IV. Beliau adalah sufi Jawa sekaligus raja yang adil, ber budi bawa leksana yang telah mencapai sembah rasa. Maksud ungkapan ber budi adalah sikap seorang pemimpin yang murah hati, suka memberi ganjaran, berdana ria dan selalu memikirkan kesejahteraan bawahan dan rakyatnya. Pemimpin memiliki kesempatan yang berlimpah ruah untuk mengumpulkan kemakmuran, kenikmatan dan kehormatan tanpa banyak harus bersusah payah. Namun bila hasilnya tidak disebarkan secara merata dan adil maka
kenikmatan itu akan menjelma menjadi senjata makan tuan. Bahkan suatu saat akan menjatuhkan diri dan martabatnya. Ungkapan ber budi maknanya asring paring dana Tindak kongkritnya yaitu anggeganjar saben dina yang bermakna seorang pemimpin yang pemurah, kreatif, inovatif serta memiliki kepribadian agung. Arti ungkapan bawa leksana adalah menepati dan menetapi kata-kata. Sabda brahmana raja sepisan kudu dadi tan kena wola-wali, mengandung makna bahwa perkataan ulama dan umara itu harus bisa dipegang. Oleh karena itu sebelum diucapkan harus dipikirkan masak-masak.Raja dan brahmana merupakan figur panutan yang diikuti oleh banyak orang. Idiom esuk dhele sore tempe hanya patut diucapkan oleh pedagang di pasar yang hanya mengejar laba tak memikirkan dampak kata-katanya. Sangat berbahaya bila pemuka masyarakat cepat-cepat berubah ucapannya hanya untuk menuruti selera sesaat. Orang yang mencla-mencle akan menyusahkan. Lire kang bawa leksana anetepi pangandika adalah suatu ungkapan yang penuh dengan prinsip luhur yang perlu dipraktikkan para pemimpin.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangku Negara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangku Negara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya. Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangku Negara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur/ gantya sembah lingkang kaping catur/ sembah rasa karasa wosing dumadi/ dadi wus tanpa tuduh/ mung kalawan kasing batos.
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
B. Anteng, Meneng, Jatmika, Sembada
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematanganrohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri. Ciri orang yang sudah mencapai tataran sembah rasa ini adalah anteng, meneng, jatmika, sembada, dan wiratama.
Anteng bermakna tenang, halus, indah tapi berbobot. Ada pepatah: air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, yaitu larangan untuk meremehkan hal-hal yang kelihatan remeh yang tak berdaya. Sikap anteng akan menimbulkan kewibawaan dan mendatangkan rasa hormat dari pihak lain. Dalam proses belajar mengajar, sikap anteng itu sangat diperlukan. Guru akan merasa dihargai jika siswanya bersikap anteng. Dengan sikap anteng berarti siswa memperhatikan dan memahami ajaran gurunya. Suasana gaduh akan membuat pelajaran tidak bisa dipahami dan emosi mudah terbakar. Dalam forum resmi sikap anteng diperlukan demi kelancaran hal yang sedang dibicarakan. Keputusan yang dihasilkan oleh forum yang anteng pesertanya maka hasilnya akan lebih jernih. Dalam kehidupan sehari-hari pribadi yang anteng bisanya mampu berpikir lebih jernih untuk memecahkan berbagai persoalan.
Meneng artinya diam. Namun diam di sini bukan dalam arti tanpa sikap dan tidak tahu persoalan. Seseorang harus diam di kala tertentu agar suasana tidak menjadi keruh. Suasana yang panas akibat dari ucapan yang bermacam-macam menambah potensi konflik menajam dan perselisihan meruncing. Pilihan untuk diam merupakan sikap terbaik dan bijaksana. Di sini bisa dikatakan: diam adalah emas. Apabila konflik memuncak dan ujung kompromi tak diketemukan, biasanya mereka akan berpaling kepada pihak yang tidak banyak bicara. Dan barulah pihak ini memberikan solusi yang jernih dan efektif. Tindakan diam juga bisa digunakan untuk menghadapi orang keras. Orang keras kalau dihadapi secara frontal akan bertambah beringas. Dengan diam, lama-kelamaan ia akan sadar diri.Jatmika adalah segala tindak-tanduk yang berdasarkan kaidah kesusilaan, sehingga siapa saja yang menyaksikan akan berkenan dalam hati. Dalam posisi apa pun, sikap jatmika senantiasa membawa rasa wibawa, segan dan hormat. Bagi kalangan bangsawan, ningrat atau priyayi, sikap jatmika akan menimbulkan rasa simpati buat rakyat kecil. Kekaguman rakyat kecil terhadap kelas atas karena tingkah laku yang jatmika ini. Sikap ini membuat rakyat kecil menaruh kepercayaan. Kepercayaan termasuk modal yang ampuh untuk menerapkan wewenang. Rakyat kecil mudah terhipnotis oleh wibawa jatmika sang pemimpin. Sebagai contoh adalah yang ditunjukkan oleh Presiden Soekarno. Hingga sekarang, kharisma beliau terpancar seolah-olah beliau masih hidup dan memberikan semangat juang. Sembada berarti berperilaku yang sesuai dengan kemampuan, perkataan, serba cukup, cocok dengan kenyataan dan selalu mengambil keputusan tanpa merepotkan orang lain. Orang yang sembada berarti segalanya sudah ditakar, diukur dan dikira-kira. Banyak orang yang suka menutupi kekurangan diri dengan berbuat berlebihan, sehingga pada ujung-ujungnya menimbulkan kesulitan. Berperilaku mewah agar mendapat wah, itu sama halnya dengan menabung masalah. Penampilan mewah boleh-boleh saja tetapi harus sembada dengan menakar diri. Prinsip sembada ini bila dilanggar maka seseorang akan kecele, kewirangan, dan menjadi buah bibir buruk bagi orang yang iri. Kadang-kadang menjadi luapan balas dendam dengan mengejek.
Wiratama berasal dari kata wira yang artinya gagah berani dan utama yang artinya juga utama. Wiratama berarti gagah berani melakukan kebajikan, atau satria agung yang gagah berani membela kebenaran dan keadilan. Orang yang berjiwa wiratama berarti mementingkan kepentingan orang banyak. Dirinya merasa bermakna hidupnya apabila bermanfaat bagi masyarakat umum. Tenaga dan pikirannya disumbangkan kepada khalayak. Cepat kaki ringan tangan dalam beraktivitas sosial dan peduli dengan nasip orang lain yang membuatnya populer. Secara alamiah pemimpin akan muncul dari orang-orang yang peduli terhadap orang lain dan memperhatikan
kepentingan umum. Akhirnya kepemimpinan yang demikian itu akan diakui.
C. Eneng Ening Wardaya
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan,kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti tampak pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki/ ing rarasantang keneng rinasa/ tan kena ginurokake/ yeku yayi dan rampung/ eneng onengira kang ening/ sungapan inglautan/ tanpa tepinipun/ pelayaran ing kesidan/ aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
Dengan demikian menurut Mangku Negara IV bahwa dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin: kalbu, jiwa atau ruh dan inti jiwa atau inti ruh (telenging kalbu atau wosing jiwangga) yang menunjukkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya(Ardani, 1995). Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangku Negara IV dalam bait berikut:
“Samengko ingsun tutur
gantya sembah ingkang kaping catur
sembah rasa karasa wosing dumadi
dadine wus tanpa tuduh
mung kalawan kasing batos”
(Serat Wedatama)
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain seorang salik telah tiba di tempat yang dituju; di sinilah tujuan akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan dengan selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang tcatur sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa (Ardani, 1995).Pada posisi ini seorang salik melaksanakan sendiri sembah rasa tanpa petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani, oleh karenanya ia cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri (Ardani, 1995).
Salah satu ulama yang telah mencapai hakikat sembah rasa ini adalah Syekh Amongraga. Ia adalah keturunan Sunan Giri yang melarikan diri saat Giri ditakhlukan oleh kekuatan militer Mataram. Ia bernama asli Jayengresmi. Setelah mencapai ilmu makrifat, ia diberi gelar Syekh Amongraga. Salah satu penggalan kisahnya seperti dalam Serat Centhini berikut ini : “Demikian besar cintanya kepada Allah, ia sangat berprihatin. Berjalan-jalan di tepi laut mendengar-dengarkan berita dalam mencari saudaranya, yang kebetulan sedang berada di Wanamarta. Tersebutlah sanak keluarga yang masih ditinggal di Sokayasa, semua sudah diberi kabar. Montellah yang diutus, dan semua sudah menyusul ke Wanataka. Cerita beralih kepada Raden Jayengresmi, yang sudah lama tinggal di Karang, dipungut anak dan diwejang semua ilmu, sudah tahu bahwa kelak akan mendapat anugrah Allah, lebih-lebih karena sudah punya bekal dari wejangan ayahandanya ketika masih tinggal di Sokaraja. Raden Jayengresmi diberi nama Amongraga. Kedua abdinya yang kembar dan bernama Gatuk Gatak, sudah diganti pula namanya menjadi Jamal Jamil.
Pada suatu hari Syekh Amongraga menghadap Kyai, mohon diri hendak mencari saudaranya. Ki Ageng memberitahukan keselamatan saudaranya, akan tetapi takut untuk menjelaskan di sebelah timur. Di sana ada seseorang bernama Ki Bayi Panurta,yang mendapat rahmat Tuhan telah mengetahui ilmu yang tergolong lahiriyah maupun batiniyah, akan tetapi jika dibandingkan dengan yang ada di Karang, masih terhitung lumrah seperti yang dimiliki oleh para santri. Dia memiliki seorang anak perempuan bernama Niken Tambangraras, yang sangat terkenal.
Banyak santri yang jatuh cinta, namun tekad niken Tambangraras, kelak akan kawin jika ada yang sesuai di hati. Banyak orang besar datang melamar ditolak. Syekh Amongraga disuruh ke Wanamarta, akan dapat menikah dengan Tambangraras, dan kelak akan menjadi sarana bertemu dengan saudaranya. Setelah dipesan supaya kuat berprihatin, Syekh Amongraga sekali lagi minta diri dan sudah diizinkan, hanya diiringkan Jamal Jamil. Terus berjalan tanpa berhenti, banyak pemandangan di perjalanan, desa serta gunung, menyusup ke dalam hutan, tengah hari bersuci di sumber air lalu menyembah Tuhan. Selesai sembahyang lalu mengheningkan cipta. Kedua abdinya makan orong-orong bakar.
Sang Raden meneruskan perjalanan, menempuh jalan yang berbahaya dan sulit ditempuh, namun banyak pemandangan yang indah. Terdengar pula kicau burung. Di waktu malam terhenti, jika dipikirkan banyak benar yang terasa di hati, namun setelah ciptanya dapat terlepas, jelaslah pandangannya kepada Tuhan. Fajar pagi telah menyingsing bersemu kuning, banyak suara burung, yang bersenang-senang mencaribuah beringin dan bulu, sedangkan binatang-binatang besar keras pula suaranya, burung. merak menyapa seolah-olah memperingatkan, suara burung beluk seperti menyuruh memperlekas perjalanan. Ketika matahari tunggang gunung, sang sendu turun dari gunung tanpa mengindahkan jalan yang sulit, dan hanya berhenti di waktu sembahyang, kemudian tampaklah desa Taramaledari, di mana ada gunungnya bernama Gora, dan yang bertapa di sana bernama Ki Buyut Wasi Bagna, sangat kuat tapanya sehingga banyak yang berguru. Pertapaannya tampak asri, ia memiliki dua anak perempuan sangat cantik, bernama Niken Pangliring dan Ni Rara Sumekar, yang sangat dimanjakan.
Pada waktu itu Ki Wasi duduk bersila di langgar dihadap oleh para santrinya, yang suaranya gemuruh tengah mengaji. Syekh Amongraga tiba lalu memberi salam, dijawab
dengan cepat oleh seorang santri rendahan bernama Kerti, lalu ditanya, mengaku sebagai orang yang sengsara berasal dari Tuban, yang tengah mengembara memperdalam ilmu, dan baru saja datang dari Karang di barat. Datang karena mendengar berita di sini termasyur. Ki Kerti mengangguk-anggukan kepala, dalam hati berkata, padahal di Karang itu tempatnya santri besar, tetapi mengapa mencari penerangan kepada orang lain. Ki Kerti lalu memberi tahu sang pertapa. Disuruh segera mempersilakan, dan lama antaranya Syekh Amongraga masuk menghadap sang pertapa di depan langgar. Ki Buyut terkejut ketika melihat cahaya rona tamunya, gopoh-gopoh ia menyongsong. Para santri semua turun. Tamu menjabat tangan, menyatakan kedatangannya dari Karang, dan sang Buyut pertapa sangat akrab, tangan tamunya dituntun, diajak duduk. Sesudah duduk bersila sejenak, Ki Buyut masuk dan segera memberi tahu Nyai Buyut supaya mengantar hidangan, anaknya disuruh lekas-lekas mempersiapkan tempat sirih. Kedua putri berganti pakaian dan berhias. Ni Rara yang tua membawa tempat sirih, sedangkan yang muda membawa tempat rokok. Nyai Buyut datang lalu duduk bersila di samping Ki Buyut, kedua anaknya duduk bersila di belakangnya, tunduk seraya melirik tamunya. Sesuatu terasa di hati mereka. Tempat sirih dan tempat rokok sudah disajikan lalu dipersilakan. Tak lama kemudian disuguh makan, dan mereka makan bersama, setelah selesai dibawa ke belakang. Matahari sudah tunggang gunung, semua berwudu lalu mendengar azan. Syekh Amongraga diminta menjadi imam, akan tetapi dijawab yang wajib adalah tuan rumah, namun dijawab lebih baik lagi adalah orang yang sedang berprihatin.
Akhirnya Syekh Amongraga maju menjadi imam, ternyata membuat para santri sangat kagum mengenai suara serta tepatnya bacaan. Kedua putri tersentak hatinya dan jatuh cinta, sangat mengharap dapat menikah dengan tamu, dan moga-moga tetap tinggal di situ. Tak terasa sembahyangnya selalu tergoda oleh perasaan rindunya. Bakda Isya kembali duduk-duduk, Nyai Buyut duduk bersila di samping suami, kedua anaknya dibelakangnya. Untuk pengisi waktu berbicara ilmu tentang kedudukan Allah. Yang ditanya ialah Ki Buyut, yang wejangannya berupa perumpamaan sebuah gedung yang sangat indah, kemudian dijawab dengan apa yang disebut ratna, manikam bunga dunia. Bertanya lagi tentang Keesaan Tuhan, alif yang masuk ke dalam raga, yang menjadi rasa yang sejati, sejatinya sastra. Ki Buyut bertanya lagi tentang apa yang disebut ilmu sejati, ialah yang memiliki pandangan, Ki Buyut memuji atas keahlian tamunya. Kemudian Nyai Buyut bertanya tentang sunah, fardu serialah yang kesejatiannya langgeng, sebab sembahyang itu benar-benar akan menuntun ke arah yang sejati (benar). Juga ditanyakan tentang kebenaran roh. Syekh Amongraga menjelaskan apa yang disebut anugerah, ialah jika dalam pria ada wanita, dalam wanita ada pria, itulah yang dapat menjelaskan adanya roh. Ditanya lagi untuk lebih singkatnya. Dijawab, Aku Allah Yang Hak, pria dan wanita itu sama. Ki Buyut dan semua pembantunya sangat gembira mnedengar jawaban tersebut. Ki Buyut membujuk agar Syekh Amongraga mau tinggal lama di situ. Syekh Amongraga berterus terang hendak mencari saudara di Mataram. Anak-anak Ki Buyut menangis karena kecewa, dicegah oleh Ki Buyut. Bakda subuh semua mengantar sampai ke luar desa.Syekh Amongraga berjalan terus diringkan Jamal Jamil. Sehari penuh mereka berjalan”.
Demikian kekuatan spiritual sembah rasa Syekh Amongraga. Di sini dituntut kemandirian seorang salik, keberaniannya dan keteguhan hatinya, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam bait 156. Sembah tersebut,
demikian Amongraga, sungguh amat mendalam, tak dapat diselami dengan kata-kata, tak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu seorang salik harus merampungkan sendiri, dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam, meleburkan diri di muara samudera luas tanpa tepi, berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu terletak pada diri sendiri, seperti tampak pada bait berikut:
“Iku luwih banget gawat neki
ing rarasan tan keneng rinasa
tan kena ginurokake
yeku yayi den rampung
eneng onengira kang ening
sungapan ing lautan
tanpa tepinipun
pelayaran ing kasidan
aneng sira dewe tan lyan iku yayi
eneng ening wardaya”.
(Sri Mulyono, 1983)
Sekalipun sembah rasa ini dilakukan tanpa bimbingan guru, berkat tahap-tahap sembah seorang salik sebelumnya yang mantap, maka bukan mustahil ia memperoleh anugerah petunjuk Allah. Siapa mendapat petunjuk khusus (ilham) dari Allah, demikian Mangku Negara IV, niscaya ia memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah ilmu batin, menyiapkan dengan cepat segenap aspek batin untuk menyingkirkan dari dirinya segala hal selain Allah. Orang demikian adalah orang sepuh (matang batinnya), tidak terpengaruh hawa nafsu dan waspada terhadap manunggalnya dua unsur (kehendak Allah dan kehendak hamba) (Ardani, 1995).
D. Sapantuk Wahyuning Allah
Ranggawarsita menjelaskan bahwa seseorang harus mempelajari dengan baik kesempurnaan tentang mati yang sempurna yang beliau namakan Kiamat Kubra. Sebab menurut pokok ajaran R. Ng. Ranggawarsita, masalah kematian merupakan masalah yang teramat rumit dalam kehidupan manusia. Masa sakaratul maut manusia akan dihadapkan pada godaan-godaan dan hambatanhambatan yang amat rumit serta dapat menyesatkan. Tanpa ilmu pengetahuan tentang ke-matian yang sempurna pasti akan terjerumus ke dalam alam kesesatan. Jika salah langkah sedikit saja akan binasa dan terjerumus ke dalam kerajaan kesesatan, menjadi se-bangsa jin, setan, demit, dan brakasakan.Mengingat bahwa bait-bait Wedatama satu dengan yang lain saling menjelaskan, maka tidak mengherankan apabila Pupuh Gambuh yang terletak di belakang dapat
diperjelas Pupuh Pangkur Sinom dan Pucung yang terletak di muka. Bait berikut memperjelas Pupuh Gambuh bait 23 sekalipun ia dari Pupuh Pangkur:
“Sapantuk wahyuning Allah
gya dumilah mangolah ngelmu bangkit
bakat mikat reh mangukut
kukutaning jiwangga
kang mangkono kena ingaran wong sepuh
liring sepuh sepi hawa
awas roroning atunggal”
(Serat Wedatama)
“Wahyu” pada bait di atas (sapantuk wahyuning Allah), mengandung pengertian lughawi isyarat yang cepat atau ilham, seperti tampak dalam Al Qur’an Surat Maryam ayat 11, Al An’am ayat 112 dan juga Al A’raf 27 dan An-Nahl 68. “Wahyu” dalam bait tersebut bukan dalam arti istilah ‘nama sesuatu yang diberikan Allah kepada Nabi-nabi’, melainkan dalam arti lughawi, yang sesuai dengan bahasa Jawa “ajaran yang berupa penjelasan dari Allah mengenai perkara yang ghaib”, seperti diungkapkan Poerwadarminta. Seorang salik bisa meraih ‘ilmu ghaib’ secara cepat dari Allah. Maka tidak mengherankan jika ia memiliki kemampuan luar biasa. Namun demikian, karena ia bukan nabi, maka ia tidak mendapat wahyu tetapi memperoleh isyarat atau ilham yang laduni atau ilmu laduni (ilmu dari sisi Allah) (Ardani, 1995).
Mulane wewekas ingsun, pitubunen weling mami, poma- poma dipun bisa, mring ngelmu sarak sakalir, ingkang tinut wong sajagat, sakeh umate jeng Nabi Engeta mring ala ayu, karam makruh denkawruhi, yeku dalane utama, limang wektu aja lali, prentahe Jeng Rasulullah, nyeraha luwamah iki. Nganggo tumaninahipun, sabarang kang ora becik, karam makruh singkirana,aywa ujub riya kibir, weruha sira yen umat, apes duweke sujanmi, Allah kang Kuwasa iku, ingkang karya bumi langit, datan ana ingkang madha, kabeh kagungan Hyang Widhi, kang karya beja cilaka, gawe urip tuwin pati.
Mupung sira durung lampus, ngelmu sarak dipunkesthi, anyinggahi barang ala, kang sinebut tameng urip, kang wasis pangajinira, maca Kurane Jeng Nabi. Tartib tanduking satrayu, ngarepi kalal utami, sapa kang anut parentah, mring sarak andika nabi, salamet ing donya kerat, matru nuwun sagung murid. Kang kasebut kitab mami, saking nabi Rasulullah, muni lan marentahake, sakehe umat Muhammad, lanang wadon sadaya, kang wus padha akir umur, wajib padha nglakonana. Ing salat gangsal prakawis, Subuh Luhur lan Ngasar, Magrib lawan Ngisa mangke, Subuh iku rong rekangat sujud mring Nabi Adam, mila sinujudan iku, amarga Jeng Nabi Adam. Bapa babune keh janmi, ingaken kalipah ing Hyang, salat luhur rekangate, pan liya patang rekangat , dene kang sinujudan, iya iku Nabi Yunus, pramilane sinujudan.
Dadia pangeling-eling, sakehe manuseng donya, lamun nemu susah gedhe,
sujud marang Mahamulya, ingkang amurbeng Alam, kadi Nabi Yunus iku, nalika inguntal mina. Aneng tengahing jaladri, sujud marang Mahamulya, bisa luwar cintrakane, de salat magrib punika, kehe tigang rekangat, kang dipun sujudi iku, Nabi Musa Kalamullah, Milane dipunsujudi, nabi Musa Kalamullah, sebab Nabi Musa kuwe, pan ingaken Kalamullah, dene kang salat Ngisa, patang rekangat kehipun, dununge kang sinujudan.
Nabi Isa Rokhullahi, pramilane sinujudan, iya nabi Isa kiye, kang ingakenan Rokh allah, krana Nabi Muhammad, umatira kinen sujud, Nabi kang sinebut ngarsa. Tegese lapal ashadu, asale raga puniki, amarga wong tuwanira, samya anekakken kapti, Allah iku tegesira, rupa ala anglangkungi
Ilaha illallah iku, nora nana malih- malih, kang madhani warnanira, washaduanna puniki, sibiyang ngakeni ana, rupa ala kang madhani. Mukhammad Rasulullahu, iku enggom ingkang mesthi, rasane gaib kang nyata, kalimah kalih puniki, lanang wadon dunungira, kang aran kalimah kalih.
Terjemahan :
“Oleh sebab itu pesanku, turutilah nasihatku itu. Hendaklah diketahui betul-betul semua ajaran agama yang diikuti semua manusia di dunia, seluruh umat Nabi.
Ingatlah akan baik buruk, haram dan makruh harap diketahui, itulah jalan menuju utama, (shalat) lima waktu jangan lupa, perintah Nabi Rasulullah.Cegahlah lauwamah itu,
Gunakanlah tumaninah, segala sesuatu yang jelek, haram dan makruh jauhilah, jangan selalu menyombongkan kelebihanmu, ketahuilah egnkau itu hanyalah umat, hanya kesialan milik manusia itu. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menciptakan bumi dan langit, tidak ada yang menyamai-Nya, semua milik Tuhan Allah yang membuat bahagia dan celaka, membuat hidup dan mati.
Senyampang masih hidup, pelajarilah ilmu sarak, singkirkanlah semua kejelekan. Yang disebut hidup utama adalah yang mahir mengaji atau membaca Qur’an.
Tertib berbuat yang baik, yang diinginkan hanya yang kalal dan utama. Barang siapa yang menurut perintah dan syarak Nabi, selamatlah di dunia dan akhirat.”Semua murid berterima kasih.
Yang disebut dalam kitab yang berasal dari nabi Rasulullah, berbunyi dan memerintahkan kepada semua umat laki perempuan yang telah cukup umur wajib menjalankan.
Shalat lima waktu. Subuh, Luhur, Ngasar, Magrib, dan Ngisa. Subuh itu duarekaat, sujud kepada Nabi Adam, sebabnya disujudi itu, karena Nabi Adam,
Ayah ibu semua manusia, diakui sebagai wakil Tuhan. Shalat Luhur adalah empat rekaat. Adapun yang disujudi adalah Nabi Yunus. Sebabnya disujudi
Hendaklah menjadi peringatan bagi semua manusia di dunia, jika mendapat malapetaka besar, sujudlah kepada tuhan, yang Menguasai alam semesta, seperti Nabi Yunus itu sewaktu ditelan ikan.
Di tengah samodra sujud kepada Tuhan yang Mahamulia, dapat terlepas dari malapetaka. Adapun shalat magrib itu banyaknya tiga rekaat, yang disujudi adalah Nabi Musa Kalamullah.
Sebabnya disujudi Nabi Musa kalamullah itu karena Nabi Musa itu diakui sebagai Kalamullah. Adapun salat Isa empat rekaat banyaknya, dan yang Disujudi.
Nabi Isa Rokhullah. Sebabnya disujudi karena Nabi Isa ini yang diakui sebagai Rokh Tuhan. Karenanya Nabi Muhammad umatnya disuruh bersujud kepada Nabi tersebut.
Arti lapal ashadu, asalnya badan ini karena oragn tuamu sama-sama mendatangkan keinginan. Allah itu artinya ‘rupa ala’ berupa buruk sekali. Ilaha ilallah itu, ‘tidak’ ada lagi yang menyamai rupanya’, washadu anna itu, ‘si ibu mengaku ada rupa buruk yang menyamainya’. Muhammad Rasulullahu itu ‘tempat yang sudah pasti’. Rasanya gaib sungguh, kedua kalimah itu. Lelaki dan perempuan tempatnya pada yang disebut kalimah kalih.
Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh III itu menyatakan bahwa sebagai manusia agar selamat baik di dunia maupun di akhirat, harus mengetahui betul-betul ajaran agama dengan baik, dapat mengetahui betul-betul ajaran agama dengan baik, hal yang haram dan makruh harus dijauhi, shalat yang lima waktu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, mengurangi kesenangan duniawi, tidak menyombongkan kelebihannua, dan hendaklah menggunakan tumaninah sebaik-baiknya, sebab Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan di langit. Tuhan juga yang menciptakan baik buruk dam membuat mati dan hidup, oleh karena Tuhan hendaklah menekuni agama yang dianut, dan semua perbuatan jelek itu hendaklah dijauhi, agar kelak selamat di hari akhir.
“Roroning atunggal” pada bait di atas mengandung arti bahwa seorang salik yang sampai pada sembah rasa, begitu dekatnya dengan Allah seolah-olah ia manunggalkan dirinya padaNya atau berarti manunggal tetapi tan tunggal (bersatu tetapi tidak dalam arti yang sebenarnya), tak ubahnya seperti hakekat jiwa tampak bersama raganya, tampaknya menyatu tetapi sebenarnya berdua, juga seperti hubungan siang dan malam, kelihatannya menyatu atau bergandengan dan tak terpisah, tetapi terdiri dari dua hakekat. Dengan demikian ‘roroning atunggal’ di sini tidak mengandung arti pantheisti, karena setinggi-tinggi makrifat seorang salik hingga mendapat hal alfana wa Al baqa, betapapun hakekat dirinya telahy hancur di dunia ke Tuhanan, itu bukan berarti bahwa ia muncul menjadi Tuhan, seperti terungkap pada bagian bait 31 Pupuh Dandanggula: ing sirnane kawula tan dadi gusti (bahwa dengan hilangnya hamba kemudian tidak menjadi Tuhan) (Zoetmulder, 1935).
Sekalipun pada tingkat sembah yang keempat (bahkan mulai sembah yang ketiga) Mangku Negara IV secara samar-samar menunjukkan betapa dekat seorang salik di hadirat Allah, bukan berarti ia manunggal dengan Allah. Hal ini dapat dipahami dari penggunaan kata ‘sembah’ pada keempat tingkat sembah tersebut, sekalipun terdapat perbedaan menyolok dalam cara isi dan hakikat masing-masing. Kata sembah menunjuk adanya hamba yang menyembah dan Tuhan yang disembah (Al a’-bid dan Al Ma’bud), sekalipun Mangku Negara IV seringkali menggunakan kata amor (Pupuh Gambuh bait 19) yang berarti berkumpul atau manunggal, kata roroning atunggal (Pupuh Pangkurbait 12) yang berarti (dua unsur yang manunggal) dan kata pamoring Suksma (Pupuh
Pangkur bait 13 yang akan diuraikan di belakang), yang berarti manunggalnya suksma. Namun karena kata sembah itu disandarkan kepada kata rasa, maka kemanunggalan itu bukan kemanunggalan hakiki, melainkan kemanunggalan majazi (metafora), yakni kemanunggalan kehendak Tuhan pada kehendak hambaNya, sehingga tetap tercermin hakekat hamba yang menyembah dan hakekat Tuhan yang disembah dalam konsep sembah rasa tersebut. Hal ini sesuai dengan ajaran Sunan Bonang bahwa yang bersatu itu hanya iradat (kemauan)Nya seperti tampak dalam Suluk Wujil yaitu ajaran Sunan Bonang kepada Wujil (Sri Mulyono, 1983).
Lebih lanjut Mangku Negara IV menjelaskan bahwa seorang salik yang telah memiliki kematangan batin atau kedewasaan rohani, tidak takut dan was-was lagi terhadap manunggalnya rohani pada keagungan Ilahi, yang ia resapkan sedalam-dalamnya dan ia jelmakan kembali dalam suasana sunyi sepi. Lalu ia simpan kembali dipusat terdalam dalam lubuk hati sanubari. Pada saat itu terbukalah tirai penutup antara dia dengan Tuhannya, sehingga dengan mata hatinya ia dapat melihat Tuhannya, sekejap (menurut perhitungan ukuran waktu manusia biasa), seolah-olah hanya dalam jarak waktu antara sadar dan tak sadar pada keadaan orang menjelang tidur. Peristiwanya mirip dengan meluncurnya suatu impian yang meresap masuk ke dalam perasaan hatinya. Penjelasan Mangku Negara IV tersebut tampak pada bait berikut:
“Tan samar pamoring suksma
sinuksmaya winahya ing asepi
sinimpen telenging kalbu
pambukaning warana
tarlen saking layap liyeping aluyup
pinda pesating supena
sumusuping rasa jati”.
(Serat Wedatama)
Penjelasan Mangku Negara IV pada bait tersebut apabila diperbandingkan dengan konsep musyahadah Al Qusyairi yakni melihat Allah dengan mata hati, kelihatan kesesuaian antara keduanya. Menurut pendapat Al Qusyairi dalam hati terkandung tiga alat yang memiliki fungsi masing-masing : pertama al sirr untuk musyahadah (menyaksikan atau melihat) Allah, yang kedua al ruh untuk mahabbah (mencintai) Allah dan yang ketiga al qalb untuk menangkap kawruh dari Allah. Yang disebut terakhir ini menurut Harun Nasution ‘untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan’. Memang tidak mengherankan bahwa manusia kalbunya mampu mengetahui sifat-sifatNya.
Dengan demikian tafsiran Harun Nasution mengenai hal itu tidak bermengenaian dengan makna teks Al Qusyairi itu (Ardani, 1995).
Padha sumurupa dunung, anane nyawa puniki, kathahe mung tigang dasa, punjulira kalih iji, dunungira marang badan, anenggih sawiji-wiji.
Suksma wantah lungguhipun, ing badanira puniki, Nur Muhammad lungguhira, ana dene denmakani, yaiku dunungira, ing netra kalih puniki.
Suksma Nurbuwat puniki, lungguhe wadana yekti, Suksma Nurmeda lungguhnya, dumunung ing kuning kalih, suksma Nurmadi punika, lungguh lesanira iki.
Suksma Nursari puniku, dumunung tursina ardi, Suksma Nurjati punika , lungguh ing waja puniki, Suksma Rasa dunungira, ing dalem led-eled iki.
Sang manik Kastuna iku, lungguhe nglak-nglakan nenggih, Manik Kamma lungguhira, meniking netra puniki, Manik Pegel lungguhira, ing gunung kita puniki.
Sang Luput Jati nggenipun, ing badan anyarambahi, sang Nur Jati lungguhira ing utek lenggahe pasti, Langgeng Buwana lungguh nya, ing bebalung kang den nggonni.
Sang lapal Buwana iku, ing puser kita puniki, Sang Hyang Jati lungguhira, ing daging pernahe penggih, Sang Marmaya lungguhira, ing ototira puniki.
Kang Bayu Papat alungguh, dumunung ana ing kulit, nyawa Mulya lungguhira, ing wewadi kita iki, Nyawa Kembar winastanan, ing gantungan den lungguhi.
Nyawa Liyan lungguhipun, ati kang mulya puniki, Nyawa Wadi lungguhira, ing jasadira puniki, Sang Turangga Jati ika, lungguh neng mustaka titi.
Terjemahan :
Ketahuilah tempat nyawa itu. Jumlahnya hanya tiga puluh, lebihnya dua, letaknya ada di badan. Isilah satu-persatu;
Suksma wantah kedudukannya ada di tubuh, Nur Muhammad kedudukannya ada di kedua belah mata.
Suksma Nurbuwat itu tempatnya, ada di wajah. Suksma Nurmeda tempatnya ada di kedua telinga. Suksma Nurmadi itu letaknya di mulut.
Suksma Nursari itu letaknya di Gunung Tursina. suksma Nurjati itu terletak pada gigi. Suksma Rasa letaknya di kerongkongan
Sang Manik Kastuna itu terletak pada anak tekak. Manik Kamma terletak pada bola mata. Manik Pegel letaknya di gunung kita itu. Sang Luput Jati tempatnya di seluruh tubuh. Sang Mur Jati terletak di otak. Langgeng buwana letaknya pada tulang.
Sang Lapal Buana itu di pusat kita. Sang Hyang Jati tempatnya pada daging.Sang marmaya tempatnya ada di urat.Banyu papat letaknya ada pada kulit. Nyawa mulya tempatnya di kemaluan.Yang disebut Nyawa Kembar di gantungan tempatnya.
Nyawa Liyan tempatnya di hati yang mulia. Nyawa wadi tempatnya pada jasadmu ini. sang Turangga Jati itu letaknya di kepala Selesai.
Al Qusyairi menerangkan bahwa Al sirr itu lebih halus dari Al ruh, sedangkan Al ruh lebih mulia dari kalbu. Pelaksanaan sembah rasa semakin jelas apabila seseorang menelaah secara mendalam makna ihsan yang diungkapkan dalam Hadits Nabi saw yang diriwayatkan Muslim :
“Bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Maka jika engkau tak dapat melihatNya (dengan mata lahir), niscaya Dia melihat engkau”.
Kesungguhan menyembah Allah seperti itu terungkap pula dalam Suluk Cod. Or. 1795 yang telah disebut di muka pada dua bait 6 dan 7, namun disini perlu ditambahkan bait 8 dan 13 Pupuh Mijil sebagai berikut:
“Yen anembah den sedya ningali,
kang sinembah mangko
den kaya ngilowa wayangane
den kawangwang katon rupa jati
kang katon jro carmin
iya rupa iku”.
“Yen wus weruh tan weruh sireki
parantine anon
iku pada ulapana kabeh
iya iku ingkang angalingi
lamun sampun ening
mangke sira dulu”
Kedua bait tersebut menegaskan betapa pentingnya menyembah Allah hingga seperti dapat melihatNya, bagaikan orang melihat dirinya di muka cermin. Jika cerminnya kotor hendaklah dibersihkan, dan jika cerminnya jernih ia akan melihat dirinya (Ardani, 1995). Masa sakaratul maut ini harus teguh jangan sampai tergoda oleh perwujudan-perwujudan yang indah permai, harus awas, dan bijaksana terhadap keratin sejati. Bukan tempat kesempurnaan atau paraning pati yang sempurna. Agar hati tidak selalu was-was lagi, kesucian dari Serat Piwulang (kitab Al Qur’an dan lain-lain) yang harus jadi petunjuknya. Orang-orang berkecukupan harta benda dan ilmu serta suka mendermakan harta serta ilmunya juga dapat mencukupi kebutuhan demi hidup matinya, amal seperti ini adalah yang paling utama. Pasti akan tangkas serta tidak khawatir dalam menghadapi godaan-godaan yang sebenar-nya berasal dari empat
saudara kita sendiri dan pusat yang kelimanya. Akhirnya dapat tercapai semua kehendaknya dalam hidup di dunia hingga ke alam akhirat baka (Simuh, 1995: 238- 239).
Manusia perlu mengusahakan terus sepanjang waktu hidupnya untuk mencapai keselamatan jiwa raga. Lahir laku tidak boleh menyimpang dari syariat dan tarekat. Sedang laku batin agar tidak menyimpang dari hakikat serta makri-fat. Tidak boleh melanggar janji dan melanggar petunjuk agama (syarak). Tingkah laku manusia betul atau salahnya hanya sekali saja. Apabila tingkah laku manusia di dunia telanjur salah, nanti sampai datangnya hari kematian akan binasa. Sebaliknya apabila tingkah laku kita baik dan benar, nanti di alam kematian juga mendapat kemuliaan yang bersifat kekal .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s