SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

Mensyukuri hari kelahiran itu ternyata mengandung rahasia keselamatan dan “kekuatan”, hal ini terkait saudara empat manusia dan pancer manusia. Bila manusia bisa memanggil, empat saudara itu bagai  malaikat yang selalu siap menolong. Ia yang selalu berada di depan, belakang, kanan dan kiri manusia.

Setiap manusia yang lahir kedunia ini pastilah di iringi dengan air ketuban, darah, daging (pusar) dan ari-ari (plasenta) yang mana menurut istilah para leluhur orang Indonesia dahulu disebut sebagai saudara empat kita dan yang kelimanya atau yang di istilahkan dengan lima pancer adalah ruh kita.

Konsep “saudara empat” ini oleh para leluhur dulu ditamsilkan melalui sebuah pengamatan, yakni : Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, ia dilindungi oleh ketuban, selanjutnya adalah ari-ari (plasenta), darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup. Dan selanjutnya “empat saudara” ini setelah lahir lalu dikubur, namun para leluhur orang Indonesia dulu percaya bahwa “empat saudara” tersebut tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat. Bila kita berjalan, mereka terbang, bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita, sehingga ketika bangun tidur pikiran kita merasa lebih fresh sebab ruh kita baru saja menjejerkan diri kita dengan irodat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Karena air ketuban adalah yang pertama kali keluar saat kelahiran kita, orang Jawa menyebutnya dengan istilah saudara tua. “Saudara” ini melindungi jasad fisik dari bahaya, maka ia adalah sang pelindung fisik. Selanjutnya yang paling akhir keluarnya adalah ari-ari (plasenta), ia pembungkus janin dalam rahim yang selanjutnya berperan sebagai pengantar (pengiring) kelahiran kita ke dunia. Karena keluarnya terakhir maka oleh para leluhur dulu di istilahkan dengan adi ari-ari (saudara muda kita).

Saudara kita selanjutnya adalah darah, ia membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah “sarana dan wahana Irodat-Nya” pada manusia. Ia juga bisa disebut nyawa bagi janin. Karenanya ia juga disebut sebagai saudara kita. Saudara ghoib kita terakhir adalah pusar. Secara biologis pusar adalah tali yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dengan ari-ari (plasenta). Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu ke bayi. Karenanya pusar adalah juga disebut sebagai saudara oleh para leluhur.

Dahulu setelah agama Hindu datang ke Indonesia, empat saudara tersebut diartikan sebagai 4 anasir alam yang menjadi pembentuk jasad manusia, yaitu bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri. Juga dimaknai sebagai empat arah kiblat, yaitu Timur, Utara, Barat dan Selatan, adapun pancernya adalah tengah atau manusia itu sendiri. Jadi penafsiran agama Hindu lebih kearah makrokosmos (jagad besar) nya.

Pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, pengertian tersebut ditafsirkan sesuai dengan nafas Islam. Yaitu empat saudara tersebut adalah empat jenis nafsu manusia, sedangkan yang
“kelima pancer” nya adalah hati nurani manusia. Adapun empat nafsu yang mengiringi manusia itu adalah nafsu amarah, nafsu lauwamah, nafsu sufiyah dan nafsu muthmainah.

Nafsu amarah adalah nafsu yang berkaitan dengan keinginan manusia, yaitu keinginan untuk mempertahankan diri, juga rasa marah, emosi, menghujat orang dst. Nafsu ini bersifat panas karena mendapat pengaruh dari sifat unsur api (salah satu unsur jasad manusia). Bila tidak dikendalikan akan menjadi manusia yang emosional, pemarah, pendendam dst. Sebaliknya bila dikendalikan dengan baik, akan menjadi manusia yang baik, penyabar, pemaaf, tidak su’udlon, tawadlu’, tidak sombong dst.

Nafsu lauwamah adalah nafsu yang berkaitan dengan insting dasar manusia, yaitu keinginan tuk makan, minum, berpakaian, berumah tangga dst. Nafsu ini bersumber dari unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia. Bila tidak dikendalikan akan menjadi manusia yang serakah, kikir, tomak, suka korupsi, hanya mencari kesenangan dunia saja hingga melupakan sang Pencipta. Sebaliknya bila dikendalikan dengan baik akan menjadi manusia yang hidupnya penuh dengan syukur, banyak ingat pada Alloh, dermawan, tidak rakus dengan dunia dst.

Nafsu sufiyah adalah nafsu yang berkaitan dengan kesenangan batin. Nafsu ini bersumber dari unsur udara pembentuk jasad kita. Sebagaimana unsur udara, ia selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong). Bila tidak dikendalikan maka akan menjadi manusia yang hanya mengejar kenikmatan dunia, berjudi, zina, mabuk-mabukan, senang melihat orang lain menderita dst. Sebaliknya bila dikendalikan akan menjadi manusia yang ingat akherat, ikhlas, baik, suka menolong, taat beragama dst.

Nafsu muthmainah adalah nafsu pamrih. Nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia. Bila tidak dikendalikan akan menjadi manusia yang suka pamrih, seperti ibadahnya karena pamrih surga, amalnya pamrih ingin dipuji manusia, jika menolong orang ingin mendapat balasan dst. Sebaliknya jika dikendalikan akan menjadi manusia yang ikhlas, semua amalnya menjadi semata-mata karena Alloh.

Terhadap empat nafsu ini tidak harus dimatikan karena juga diperlukan dalam kehidupan dunia, hanya perlu dikendalikan, di didik, diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal yang mendapat bimbingan wahyu Ilahi. Inilah diantara maksud dari ‘angaweruhi’ (mengetahui dan merawat) sedulur papat (saudara empat). Adapun yang kelimanya (lima pancer) itu ada yang menyebutnya dengan istilah guru sejati, rasa sejati atau diri batin manusia.

Bahkan ada juga yang berpendapat empat saudara kita itu adalah empat Malaikat yang berada di depan, belakang, kanan kiri yang selalu siap menolong kita, bila kita bisa memanggilnya.

Nah, dengan selamatan atau shodaqoh mesyukuri hari kelahiran itulah secara tidak langsung adalah juga melakukan ruwatan, penghormatan, pemulyaan terhadap saudara kita yang empat (saudara kita yang ghoib) itu. Dan dengan melakukan hal tersebut (peruwatan dan penghormatan terhadap saudara empat itu) maka saudara empat kita itu yang menurut tafsir Hindu adalah unsur alam semesta (kesadaran makrokosmos) dan empat arah kiblat, sedangkan menurut tafsir Sunan Kalijogo adalah empat nafsu manusia dan empat anasir bahan penciptaan manusia (kesadaran mikrokosmos), maka semua “saudara empat” itu pastilah akan ikut membantu kita, sehingga akan bisa meringankan semua beban kita. Dengan kata lain saudara kita semua baik yang ada dalam diri manusia maupun yang ada diluar diri kita akan ikut membantu kita. Karena merekalah yang ditugaskan oleh Sang Kholiq untuk membantu kita dari awal berada di alam rahim sampai lahir kedunia hingga masuk ke liang lahat. Inilah diantara rahasia mensyukuri hari kelahiran, bisa “menambah kekuatan” kita sehingga memperingan semua tugas kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s